Riset 2025 Ungkap Fungsi Eksekutif Remaja Melemah, PDSKJI Minta Alarm Kesehatan Mental Dinyalakan
Riset 2025 yang dirilis PDSKJI mengungkap melemahnya fungsi eksekutif pada remaja Indonesia, memicu kekhawatiran meningkatnya risiko masalah kesehatan mental di generasi muda.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyampaikan alarm serius terkait kenaikan masalah kesehatan mental di kalangan anak dan remaja. Menurut riset 2025 yang mereka dukung, banyak remaja belum menunjukkan perkembangan optimal dalam fungsi eksekutif â kemampuan penting yang berkaitan dengan perencanaan, pengendalian diri, dan pengambilan keputusan. Kondisi ini, kata PDSKJI, menjadi salah satu faktor penyebab generasi muda semakin rentan terhadap gangguan mental.
Riset ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan sosial, tuntutan akademis, dan eksposur media digital, remaja menghadapi kesulitan dalam mengatur emosinya secara efektif. Karena fungsi eksekutif yang lemah, mereka lebih mudah merasa kewalahan dan cemas, dua gejala mental yang kerap muncul bersama lonjakan kasus depresi dan kecemasan. PDSKJI menyoroti bahwa kalau tidak ada intervensi dini, masalah ini dapat berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.
Perhimpunan juga merujuk pada data deteksi gangguan mental yang semakin tinggi. Menurut laporan, banyak remaja yang menunjukkan tanda-tanda stres berat, kecemasan, dan bahkan isolasi diri. Beberapa ahli menyebut bahwa stigma, kurangnya akses ke layanan mental, serta minimnya pemahaman orang tua dan sekolah tentang kesehatan jiwa memperparah situasi.
PDSKJI menyerukan agar pemerintah, keluarga, dan lembaga pendidikan bekerja sama memperkuat deteksi dini dan pencegahan. Mereka menyarankan evaluasi rutin fungsi eksekutif dalam skrining kesehatan mental remaja, serta memperbanyak layanan konseling di sekolah dan klinik jiwa. Selain itu, PDSKJI menekankan pentingnya literasi kesehatan mental agar remaja tahu kapan dan ke mana harus mencari bantuan.
Respon terhadap imbauan PDSKJI ini sudah muncul dari berbagai pihak. Misalnya, pemerintah diminta lebih gencar mengalokasikan anggaran untuk tenaga psikiater dan psikolog di daerah, serta memperkuat program kesehatan mental berbasis komunitas. Banyak orang tua juga ditegur untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak â seperti mood swing, kesulitan fokus, atau penurunan prestasi â yang bisa menjadi sinyal awal gangguan fungsi eksekutif.
Krisis kesehatan mental remaja, menurut PDSKJI, bukan hanya persoalan medis. Ini masalah sosial dan generasi: jika fungsi berfikir dan mengatur diri tidak dikembangkan dengan baik, potensi kerawanan psikologis bisa menular ke masa dewasa dan berdampak pada kualitas hidup generasi penerus.





